Herucoroko Sangkan Paran

Ungkapan yang sangat umum menggambarkan pandangan hidup orang Jawa adalah " SANGKAN PARANING DUMADI " (dari mana dan mau ke mana kita). Bagi orang Jawa hidup di dunia ini harus memahami dari mana ' asal , akan ke mana 'tujuan' dan 'akhir' perjalanan hidupnya dengan benar kassampuraning dumadi (kesempurnaan tujuan hakikat) dianggap " WIKAN SANGKAN ING PARAN ". Masyarakat Jawa mengartikan kata 'Jawa' bermakna 'mengerti' atau paham. Oleh karena itu, di dalam keseharian sering terdengar masyarakat Jawa melontarkan ungkapan seperti: 'durung jawa' (belum paham), 'wis jawa' (sudah paham), atau 'wis ora jawa' (berubah sombong atau atau buruk karena menjadi kaya -OKB- menjadi punya jabatan, menjadi punya pangkat, dll).

14 Oktober 2007

Potret Diri Akhir Ramadhan

Sebuah Renungan di malam 29 kemarin....

Apakah kita semua LUPA....? Apakah kita semua LALAI....? Ataukah memang kita semua TIDAK MAU TAHU....? Ketika ekonomi dan politik menjadi TAGHUT-TAGHUT yang kita sembah... Ketika INTELEKTUALITAS dan LOGIKA menjadi SESEMBAHAN kita... Ketika KEHIDUPAN HEDONISME menjadi BERHALA kita... Bahkan, ketika AGAMA dan SYARI'AT pun kita jadikan Tuhan....

Nampaknya.... Kita semua MEMANG LUPA...... Kita semua MEMANG LALAI..... Atau bahkan sebenarnya KITA SEMUA MUNAFIK.....?

Diam-diam…, Syirik musyrik telah membius diri, EGO dan NAF’S telah merasuk dalam darah, Pantas saja.....!!! Jika Allah menurunkan PERINGATAN-Nya di negeri dan bangsa ini Sangat pantas…!!! Jika Allah dengan KASIH-Nya memberikan pelajaran di bumi pertiwi ini....

Semestinya.....Patut kita akui, Nyatanya kita memang telah terlupa....!! Hanya TIKET SORGA yang menjadi tujuan kita BERIBADAH.... Hanya KELIPATAN PAHALA yang menjadi dambaan kita BERAMAL... Hanya RAKUS dan KETAMAKAN yang menjadi obsesi kita BERKARYA... Dan,hanya EGO PRIBADI yang menjadi pijakan kita BERMUJAHADAH... Nyatanya kita memang benar-benar terlupa.....!! Sesungguhnya Allah lah pencipta LANGIT dan BUMI.... Semestinya…,Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi, "Allah adalah tujuanku dan ridho Allah yang kucari "

Semestinya…, Dengan SYARI'AT, kita mengenal THAREQAT, Dengan THAREQAT, kita mengenal HAKEKAT, Dengan HAKEKAT, kita BERMA'RIFAT Semestinya…, Agama dan syari’at bukanlah sarana menghakimi sesama, “Inna robbi latiful limai yasaa, innahu huwal alimul hakim,” Namun...inilah yang terjadi di bumi Pertiwi ini.... AGAMA dan SYARI'AT telah bergeser dari TUJUAN dan FUNGSINYA Nampaknya.......,Kita tidak mau tahu akan ayat-ayat-Nya, Kita tidak mau membaca tentang tanda-tanda-Nya, Kita mungkin tahu.., tapi sengaja BERSELINGKUH.....!! Apakah kita tahu.....Ketika Adam Air jatuh dan raib.....? Itulah tanda bahwa HATI dan BATIN (adam) kita TELAH SIRNA.... Apakah kita tahu...Ketika Senopati Nusantara tenggelam tak berbekas....? Itulah tanda bahwa MUSNAHNYA JIWA para PIMPINAN nusantara, Apakah kita tahu...Ketika Garuda jatuh terbakar.....? Itulah tanda bahwa LAMBANG dan DASAR Negara telah TERINJAK2 di negeri ini, Apakah kita tahu...Ketika bencana bersahutan menerpa bumi ini....? Itulah tanda bahwa PASUKAN SAPU JAGAD ( SIRRULLAH ) tengah bersiap, Untuk.....Melibas orang-orang INGKAR dan MUNAFIK.... Dari muka bumi Pertiwi ini.....

SELAMAT BERLIBUR PANJANG dan BERLEBARAN.... Smoga kita semua....masih tetap diberikan KEKUATAN dan KEMAMPUAN tuk's MELURUSKAN NEGERI dan BANGSA ini.... Dan...diberikan KELAPANGAN HATI tuk's menerima segala KEHENDAK-NYA. Amin...

Salam

Kariyan-OKLEQ'S

01 Oktober 2007

"Belajar Bijak"

Orang bijak membicarakan ide. Orang biasa membicarakan aktivitas. Orang kerdil membicarakan orang lain.


Dengan membaca kata-kata hikmah tersebut di atas kita tergelitik untuk bisa mengukur diri kita. Dalam kategori manakah dari ketiga jenis manusia itu diri kita ini berada? Apakah kita tergolong orang bijak, ataukah orang biasa, ataukah justru termasuk orang kerdil?


Dari kedalaman hati kecil yang tidak pernah berbohong, kita akan menjawab jujur bahwa kita sebenarnya masih tergolong jenis manusia yang ketiga. Hampir tidak pernah ada hari yang melintas di hadapan kita tanpa disapa dengan gunjing alias membicarakan kekurangan, keburukan, kelemahan atau kesalahan orang lain. Bergunjing telah menjadi kebiasaan manusia baik dalam forum resmi maupun cangkruan, dan kebiasaan ini merupakan kebiasaan orang-orang kerdil, dan sekaligus kebiasaan yang sangat dibenci oleh Tuhan. Dan yang termasuk dalam kebiasaan orang-orang kerdil ini adalah kecenderungan menilai, menyalahkan dan memojokkan perilaku orang lain.


Dengan kebiasaan dan kecenderungan ini, kita sebenarnya telah memproduksi virus-virus yang bertugas menghancurkan kreativitas dan memakan habis semua amal kebaiikan kita, bahkan meski kita telah menjadi ahli agama sekalipun. Sebab, bergunjing pada hakikatnya menyiratkan kesombongan yang sangat dibenci Tuhan. Dengan bergunjing kita—sadar atau tidak sadar—merasa lebih baik, lebih utama, lebih suci, atau lebih benar daripada orang lain; dan itu berarti bahwa kita telah mengenakan pakaian Tuhan, pakaian kesombongan. Dan Tuhan melalui lisan Rasul-Nya benar-benar telah menjanjikan kehinaan dunia dan akhirat bagi orang-orang yang mengenakan pakaian-Nya. Dalam kaca mata Islam, membicarakan atau menggunjing orang lain dipandang bukan saja kerdil, melainkan juga hina.
Sebagai orang-orang yang beragama kita tentu tidak menghendaki hal itu. Kita tentu lebih memilih kemuliaan dalam ridha Tuhan daripada kehinaan dalam murka Tuhan. Karena itu, meskipun berat dan sulit, sudah saatnya bagi kita untuk mulai bertekad, benar-benar bertekad, untuk terus-menerus belajar menjadi orang bijak, sedemikian rupa sehingga kita tidak lagi membicarakan orang lain, melainkan benar-benar hanya terfokus pada membicarakan ide-ide (luhur). Tentu saja, orang yang benar-benar bijak tidak hanya sekadar membicarakan ide-ide, melainkan juga sekaligus mempraktekkan atau mewujudkannya, melalui tangannya sendiri atau melalui tangan orang lain.


Bijak ('ârif) sebenarnya dapat dimaknai dengan "kemampuan mengenal diri sendiri dan mengenal (baca: memahami perasaan) orang lain". Dengan begitu, orang bijak mengenal tugas-tugas dan kewajibannya sebagai manusia dalam kerangka individu dan sekaligus dalam kerangka kelompok; ia juga mampu membedakan—dan benar-benar memisahkan dalam praktek—yang baik dari buruk, yang bermanfaat dari yang sia-sia, yang menguntungkan dari yang merugikan.
Orang bijak biasanya lebih sibuk menghisab dirinya sendiri daripada menghisab orang lain, selalu bersedia mendengarkan orang lain dan memberikan kontribusi, lebih memilih mencarikan solusi daripada menyalahkan, dan selalu berlapang dada dan bahkan berterima kasih terhadap kritik apa pun, bahkan meskipun kritik itu sangat pedas, kasar atau tidak proporsional. Bagi orang bijak, kritik menjadi jamu yang menyehatkan jiwa.
Lebih dari itu, orang bijak selalu mengisi waktu luang hanya dengan hal-hal yang bermakna dan bermanfaat. Meskipun terlibat dengan humor-humor, misalnya, orang bijak selalu tampil dengan humor-humor yang cerdas, humor-humor yang tetap mengandung hikmah dan pelajaran, bukan humor-humor yang hanya mengundang gelak-tawa tetapi sepi dari makna-makna.


Dengan ciri-ciri semacam itu, tidak mengherankan apabila orang bijak menjadi dambaan masyarakat luas, dan bahkan sedang ditunggu-tunggu oleh dunia, oleh manusia dan kemanusiaan.


Sekarang ini dunia tidak lagi benar-benar membutuhkan orang-orang pintar, pandai, atau jenius secara intelektual. Orang pandai sudah menumpuk. Sarjana-sarjana perguruan tinggi yang memiliki ilmu pengetahuan sudah melampaui batas-batas yang diperlukan. Tapi, dunia tidak lagi benar-benar membutuhkan manusia-manusia yang sekadar memiliki ilmu pengetahuan. Dunia lebih membutuhkan manusia-manusia yang bijak, manusia-manusia yang mengenal makna kemanusiaannya dan mampu menebarkan kasih sayang diantara sesama dan terhadap alam. Sebab, sebagaimana dikatakan orang bijak "Semakin banyak orang-orang yang pandai, semakin sulit dicari orang-orang yang jujur."


Orang bijak menganggap semua penyakit kemanusiaan timbul karena manusia hanya mencerdaskan otaknya saja tetapi mengesampingkan panggilan hati-nuraninya. Namun begitu, jauh lebih awal dari pada dua belas abad sebelumnya, Rasul dan para sahabat justru telah mempraktekkan konsep yang bahkan jauh lebih bermakna dan sempurna. Dengan Kitab Suci dalam diri, Rasul sudah mengumandangkan bahwa sesungguhnya yang buta bukanlah mata melainkan yang buta adalah hati (kalbu) manusia yang ada di dalam dada. Kitab Suci bahkan menyebut orang-orang yang tidak menggunakan kalbu mereka sama dengan binatang, bahkan lebih sesat lagi. Rasul dan para sahabat selalu memohon perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari kalbu yang keras dan lalai.
Agama sebenarnya juga mendidik manusia antara lain untuk menjadi bijak ('ârif). Mendalami sebuah agama berarti sekaligus belajar bijak. Dalam timbangan ideal, orang beragama sudah semestinya bijak. Orang bijaksana hanya mengenal diri dan orang lain dalam konteks yang terpisah dari bingkai ketuhanan yang haq.
Jika orang-orang yang beragama ternyata masih gemar membicarakan orang lain alias tidak bijak, berarti ia masih belum benar-benar menggunakan kalbunya meskipun pada saat yang sama sering " berdzikir “ mengingat dan menyebut asma Tuhan dengan kalbunya. Dalam menjalankan agama tidak hanya menyangkut soal ibadah dan "banyak beramal", tetapi juga bagaimana "ibadah" itu dapat memberikan buah yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berinteraksi dan berkoeksistensi dengan sesama manusia serta alam. Mendalami sebuah agama juga tidak sesederhana cerita yang disajikan dengan penuh kebanggaan, meskipun merupakan jalan lurus dan mulus menuju Tuhan, agama juga merupakan jalan licin yang penuh dengan tanjakan dan rintangan. Sedikit saja lengah, pasti tergelincir. Yang mengerikan, kita seringkali tidak menyadari bahwa kita sedang tergelincir dan melenceng dari rel ajaran agama yang benar.
Untuk itu, diperlukan tekad dan upaya untuk dapat menjadi orang beragama yang bijak. Apa pun, kalau kita masih gemar membicarakan orang lain alias belum menjadi orang bijak, kita layak khawatir terlibat dengan ungkapan orang bijak bahwa kita sebenarnya "belum menjadi orang beragama, tetapi baru pernah masuk dan mengenal ajaran agama".

Karena itu, kita perlu terus belajar dan belajar dalam memahami dan menghayati sebuah ajaran agama. Wallâhu a'lam. ( Okleq’s ).

Berpikir Obyektif

Dibagian bumi manapun kita hidup, pastilah mendengar dan mengenal kata " benar dan salah " dalam bahasa setempat yang kita mengerti. Kita mengerti bahwa apa yang disebut "benar" bila kita mengikuti apa apa yang yang telah diterima dan disepakati oleh suatu kelompok atau masyarakat. Ketika manusia belum bisa menimbang dengan rasio atau akal pikirannya apa yang disebut kebenaran, maka kebenaran yang berkembang adalah " kebenaran mitologis ".

Agama yang mula mula muncul di dunia ini juga penuh dengan mitos....!.

Pada tahap mitos ini manusia tidak mau atau tidak berani MEMPERTANYAKAN hal-hal yang dianggap benar tapi tidak masuk akal. Karena mempertanyakan sesuatu yang dipegangi oleh masyarakat atau kelompok, sama dengan menggugat keabsahan kepercayaannya.

Untuk mamahami kata " benar dan salah " kita memerlukan perangkat penilaian dalam berpikir yakni "obyektif rasional, obyektif logis dan obyektif sejati ”.

Yang paling dasar untuk dipahami adalah kebenaran yang "obyektif rasional ”. Jika sesuatu tak dapat dibaca secara inderawi, maka hal itu tak bisa diverifikasi atau diuji kebenarannya oleh orang lain. sehingga penilaian yang ada bersifat tak obyektif melainkan subyektif. Agar sesuatu obyek dapat dapat dipahami oleh orang lain, maka diperlukan adanya pemahaman tentang ” kualitas dan kuantitas ” yang melekat pada obyek yang diamati. Misalnya tentang ciri, dan sifat , bentuk dan ukuran dari obyek yang diamati. Sehingga kebenaran yang diketahuinya bersifat obyektif rasional. Yah....inilah wujud kebenaran yang baru dalam tahap dasar dan juga bisa kita sebut sebagai

” KEBENARAN INDERAWI ”.

Dalam berpikir, semua obyek yang diingat atau diketahui dicari relasi dan hubungannya. Sebagai misal, ada tanaman dan pupuk. Kita tentunya ingin mengetahuinya apa sih hubungan tanaman dan pupuk. Binatang ternak tidak bakalan mengerti relasi obyek-obyek tersebut. Tetapi, manusia telah diberi oleh Tuhan adanya kemampuan ” Akal dan Pikiran ” untuk MEMAHAMI hubungan relasi antar obyek yang diamati.

Sekarang mari kita sama-sama perhatikan obyek-obyek yang berupa siang, malam, matahari, bintang dan rembulan. Ternyata semua itu berjalan sesuai dengan ” SISTEM ” dan beredar berdasarkan HUKUM Tuhan. Mengetahui sifat dan ciri masing-masing obyek semata, TIDAKLAH CUKUP untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari obyek-obyek tersebut bagi KEHIDUPAN manusia. Dalam hal ini, manusia harus menggunakan

” RASIONYA ”, AKAL PIKIRANNYA. Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari obyek tersebut kita haruslah MEMAHAMI teori Matematika dan Kalkulus, meski pada perhitungan dan kalkulasi yang sederhana sekalipun.

Lalu, semua kita endapkan dan kita ambil sebagai pelajaran. Pelajaran itu sendiri datangnya dari Tuhan. Makanya, kita diperintahkan untuk menimba ” Ilmu dan Hikmah ” dari mana saja. Semua itu merupakan ayat-ayat atau tanda-tanda Allah. Dan, yang musti kita pahami adalah bahwa Ilmu yang diperoleh dari Tuhan itu BUKAN KEPUNYAAN orang yang kita anggap

” KAFIR, SESAT atau karena tidak seagama dengan kita.

Sesungguhnya semua Ilmu itu KEPUNYAAN Tuhan......!!! meski yang membukakan adalah orang-orang yang memiliki atribut atau label formalitas Agama yang berlainan dengan keyakinan kita.

Kebenaran tidak pernah lahir dari tindakan yang bersifat emosional.

Kebenaran juga tidak akan pernah lahir jika manusia masih melakukan AGRESI atau melakukan penyerangan ” beraksi, bertindak dan berbuat dalam menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial yang hadir ditengah-tengah masyarakat. Kebenaran selalu lahir dari sikap kearifan sebagaimana kearifan yang digali oleh para nabi-Nabi. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad ” berkhalwat ” di Gua Hira sebelum beliau diangkat sebagai Nabi. Bila orang mau memahami kebenaran yang paling dasar ini, tak usah yang rumit dengan menggunakan sistem penalaran yang canggih, orang akan menyadari siapa dirinya, ” DIRI yang sebenar-benar DIRI ”......!.

Seseorang harus mengaktifkan semua indera yang dimilikinya baik itu berupa akal, pikiran, batin dan perasaan serta hati ( Qalbu ). Memang dalam menilai suatu obyek harus bebas dari perasaannya lebih dahulu. Harus rasional dan berpatokan pada hal-hal yang berupa sifat, ciri dan tolok ukur yang dapat dimengerti bersama. Dengan tolok ukur yang sama, tanpa adanya pemaksaan untuk menjadi sama yang terpenting adalah kita dapat hidup saling memahami dan saling pengertian.

Manusia harus dapat menghargai “ PERSATUAN bukan menitik beratkan kepada KESATUAN dan menjunjung tinggi KEBERAGAMAN bukan memaksakan untuk menjadi sebuah KESERAGAMAN “.......!!.

Jadi kunci agar kita bisa hidup bersatu adalah pertama-tama harus “ hidup obyektif rasional “. Dan perlu kita pahami bersama bahwa hidup obyektif rasional itu belum merupakan syarat bagi kehidupan Industri.

Untuk memiliki jiwa industri kita harus melangkah pada tahap kebenaran berikutnya yaitu “ obyektif logis “.

Rasanya dalam situasi dan kondisi tertentu yang namanya

“ percakapan, dialog dan tukar pendapat “ itu perlu dan penting. Sebagai contoh dinegara-negara berkembang, terutama di negara yang sudah maju para filosof yang muncul kepermukaan pasti Dia akan mengemukakan buah percakapan yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Sebagai misal si “X”, untuk mendapatkan gelar keilmuan pasti terlebih dahulu membuat karangan-karangan ( skripsi ) yang selanjutnya dipresentasikan didepan orang banyak. Sejauh mana si “X” tadi dapat mempertahankan buah karangan yang telah dibuat.

Selanjutnya apa yang disebut logis itu, sesuatu akan disebut logis bila alur ceritanya “ KONSISTEN, TERATUR dan SISTEMATIS “.

Orang yang berpikir obyektif logis biasanya mampu membedakan antara

“ fakta, citra dan realita “.

Pikiran yang obyektif logis telah membawa kepada sikap hanya ada satu kebenaran, satu kenyataan dan satu keberadaan dalam alam semesta ini yakni kebenaran “ HUKUM Tuhan “. Dengan demikian Tuhan bukan merupakan hasil dari pada angan-angan sang pikiran manusia, melainkan hasil dari pada perjuangan batin yang lurus lagi bening ( suci ).

Mencari kebenaran memerlukan proses “ Mujahadah/perjuangan “ yang amat panjang. Kita bisa lihat sejarah Nabi Musa ke Gunung Tursina sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad selama 13 tahun di Gua Hira’ melakukan “ Riyadah “. Hasilnya mereka semua telah menjadi sosok manusia yang obyektif rasional dan logis dan telah menemukan “ Al Haqq “. Mereka telah menemukan “ kebenaran “ yang hasilnya telah dibagi-bagikan kepada manusia di sekitarnya sampai kepada kita sekarang ini. Yang diajarkan adalah cara berpikir logis. Dari fakta-fakta tentang “ diri “ dan lingkungannya serta relasi yang terjadi antar obyek yang ada di Dunia ini, maka Dia mengajarkan dengan tegas bahwa hanya ada “ satu kebenaran “ atau

“ satu kenyataan “ yaitu Kebenaran dan Kenyataan hukum Tuhan Yang Maha Esa.

Sekarang sampai kepada pemahaman “ obyektif sejati “

Kita lihat dunia ini apa adanya, terlepas dari persepsi kita. Dalam bahasa filsafat kesejatian ini biasa disebut dengan “ Obyective Existence “.

Bebas dari pandangan siapapun. Batu ya seharusnya kita sebut Batu dan bukan kita sebut Kerikil. Gunung ya harus disebut Gunung bukan Bukit....!.

Dalam pemahaman obyektif sejati kita tak akan terjebak lagi oleh “ Angan-Angan “, atau Imajinasi, juga kita tidak akan terjebak oleh bahasa suatu Kaum ( Bangsa ). Yang terjadi, kebanyakan sekarang ini kita pada terjebak oleh bahasa suatu bangsa, maka secara tak sadar kita telah terpeleset dalam memahami “ kebenaran “.

Sebagai contoh yang umum terjadi, banyak orang yang beranggapan kalau berdoa harus dengan menggunakan bahasa Kitab Suci tertentu akan lebih

“ Afdol “. Bahkan dalam Ibadahpun kalau tidak dibaca dengan “ Tartil dan Tajuwit “ yang benar bisa salah arti dan tidak syah Ibadahnya seseorang.

Hal-hal semacam ini merupakan hasil akal-akalan pikiran manusia di bumi ini yang tidak berdasarkan “ kebenaran obyektif sejati “. Pernyataan semacam ini hanyalah hasil “ Rekayasa “ sang pikiran manusia dan bukan sebuah kenyataan. Hal ini seolah mengisyratkan bahwa Tuhan itu memiliki bahasa dan nama agama tertentu saja. Bahasa selain yang tertulis dalam sebuah Kitab Suci tertentupun ( Al Quran ) dikondisikan seolah tidak berlaku bagi Tuhan...

Atmosfir yang berkembang dalam peradaban umat manusia dalam menganut sebuah Agama yang telah diberikan label dengan nama tertentu, manusia mencoba MEMAKSAKAN DIRI untuk memasukkan “ Zat “ Tuhan kedalam kerangka pikirannya bahwa Tuhan seolah-olah hanya meridhloi “ nama sebuah Agama, kelompok, golongan atau keyakinan tertentu “ saja.

Harusnya kita memahami kebenaran yang benar. Sebuah Kitab Suci adalah Qalam yang diwahyukan Tuhan kepada para Nabi sesuai dengan bahasa suatu masyarakat ( kaum ) Yah...kebetulan saja Nabi Muhammad terlahir sebagai orang Arab, jadi Wahyu yang disampaikan oleh Muhammad pasti dengan menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh masyarakat atau suatu kaum yang ada dalam lingkungan Nabi saat itu, sebagaimana firman Tuhan dalam QS. Ibrahim 4.

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.

Ketika Tuhan memberikan akal kepada manusia, untuk apa akal dianugerahkan kepada kita...? Ya untuk menjawab persoalan-persoalan nyata dalam hidup di dunia ini. Lha Agama atau “ din “ merupakan pedoman dan tuntunan bagi manusia untuk melangkah dengan landasan Kitab Suci. Kemana kita melangkah...? ya menuju “ keberadaan yang satu “ yaitu berjalan lurus / kebenaran menuju Tuhan Yang Maha Esa dengan sikap Pasrah, Ikhlas dan tanpa pamrih.

Hanya karena keterbatasan akal, wawasan dan ilmu serta ketidaktahuan manusia dalam MEMAHAMI menyebabkan kita hanya bermain “ teori “.

Namun sebuah teori itu penting untuk menjadi acuan dan landasan bertindak. Seperti kita akan mengoperasikan alat-alat dengan teknologi seperti sekarang ini, kita tidak akan bisa mengoperasikan sebuah Pesawat Televisi kalau tidak membaca “ manual booknya “ , kita tidak akan bisa mengemudikan kendaraan kalau tidak mengetahui aturan mainnya. Tetapi setelah kita bisa memahami teori dan teori tersebut telah menyatu sebagi persepsi jiwa kita maka, dengan sendirinya kapan kita harus merubah porseneling, kapan kita harus mengerem dan kapan kita harus tancap gas, secara otomatis tangan dan kaki akan bergerak tanpa perlu lagi melihat/membaca manual booksnya.

Ketika kita mandeg pada sebuah teori ( teks book ) dan berhenti pada stasiun sang akal dan pikiran, maka kita akan menemukan kehidupan yang penuh

“ Khayalan dan Ilusi yang penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan.

Dalam hidup ini sebuah konsep tentang Tuhan sangat diperlukan untuk melandasi langkah manusia. Tetapi, jika kita hanya berhenti pada konsep, teori, berpegang atau masih bergantung dengan “ APA KATANYA “ kata Gurunya, Kiyainya dan kata Hadis ataupun kata sebuah teks book Kitab Suci yang hanya sebatas kita pahami secara “ HARFIAH “ tanpa memahami MAKNA, ISI kandungan yang TERSIRAT dari “APA YANG DIKATAKANNYA” itu sama artinya kita telah Hidup di alam “ Khayali “.

Jika kita sama-sama berpikir obyektif sejati dan berani berkata jujur, kitapun bisa mengukur diri kita sendiri, apakah ibadah yang kita lakukan benar-benar murni atas perintah “sang pribadi” dari hati sanubari kita yang paling dalam....?? ataukah hanya karena kata dan pendapat orang atau bahkan karena perintah sebuah Kitab Suci dan perintah sebuah Hadis...??.

Jika kita beribadah karena mengharap pahala dan surga itu namanya ibadah “ dagang “....!!. Jika kita beribadah karena takut masuk neraka, itu sama artinya dengan ibadah “ ketakutan “....!!. Jika kita beribadah karena perintah sebuah Kitab Suci/Hadis, itu namanya ibadah “ keterpaksaan “...!!.

Inna sholati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati, lillahi robbil alamin.

Jika kita mendengar kata “ ibadah “, maka yang tertangkap oleh pikiran kita adalah bentuk tindakan ritual agama. Lalu, kalau ada orang yang tidak menjalankan ritual formal tersebut, kita akan katakan bahwa orang itu tidak

“ beribadah “. Akibatnya, suburlah formalitas ritual agama dalam kehidupan ini. Orang akan takut dicap atau dikatakan “ kafir “, maka rajinlah ia ketempat- tempat ibadah.

Tuhan adalah “ Kebenaran, Kenyataan dan Keberadaan SEJATI “. Dia Al Haqq. Tuhan tak dapat dibohongi dengan dalil-dalil sebuah teks book Kitab Suci, Madzab dan Hadist apapun atau bahkan dengan nama sebuah Agama sekalipun. Itulah sebabnya setiap Nabi turun ke dunia selalu menyempurnakan “ Ajaran “ dari ajaran sebelumnya tanpa ada saling pertentangan, saling menyalahkan para pembawa risalah Qalam Illahi sebelumnya yang datangnya tanpa “ huruf, abjad, kalimat dan bahkan tanpa suara sekalipun “.

Dengan berpikir obyektif logis, rasional dan obyektif sejati, rasanya harapan dan dambaan semua manusia akan benar-benar menuai kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan di Bumi ini dan alampun akan memberikan berkah bagi makhluk yang bernaung di dalamnya bisa terwujud. Semoga....!.